
Pali, Beritapali.id — Menghadapi potensi ancaman kebencanaan yang dapat timbul sewaktu-waktu, Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melalui Dinas Sosial (Dinsos) terus bergerak cepat mempererat barisan bersama para mitra sosialnya. Langkah konkret ini diwujudkan melalui agenda pertemuan strategis yang mempertemukan jajaran struktural dinas dengan 39 relawan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) se-Kabupaten PALI pada Jumat (31/07/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat namun sarat dengan komitmen ini fokus membahas evaluasi kesiapsiagaan daerah, pemetaan wilayah rawan, serta penyusunan langkah-langkah mitigasi berkelanjutan. TAGANA, sebagai organisasi relawan berbasis masyarakat, dituntut untuk semakin padu dan sigap menjadi benteng terdepan dalam menjaga ketentraman serta keselamatan warga Bumi Serepat Serasan.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten PALI, Edy Irawan, S.E., M.Si., dalam arahannya menekankan bahwa dinamika iklim dan kondisi geopolitik-sosial masyarakat saat ini menuntut perubahan pola pikir dalam penanganan bencana. Penanggulangan bencana tidak lagi sekadar berfokus pada tahap tanggap darurat pasca-kejadian, melainkan harus digeser pada penguatan upaya pencegahan dan pengurangan risiko (mitigasi).
”Relawan TAGANA adalah garda terdepan sekaligus mata dan telinga pemerintah di lapangan. Saya mengajak seluruh 39 anggota TAGANA yang tersebar di wilayah PALI untuk lebih aktif dan tidak ragu turun langsung ke tengah masyarakat. Sosialisasi kewaspadaan harus terus digencarkan, baik untuk bencana alam maupun bencana sosial. Pencegahan yang masif jauh lebih berharga daripada sekadar merespons dampak yang sudah terjadi,” tegasnya.
Beliau juga menambahkan bahwa dengan kondisi geografis PALI yang terdiri dari kawasan perairan sungai, perkebunan, hingga pemukiman padat, koordinasi antara Dinsos dan TAGANA harus berada dalam kondisi siap siaga 24 jam.
Sejalan dengan Kepala Dinas, Kepala Bidang Perlindungan & Jaminan Sosial Dinsos PALI, Yepi Yulius, S.Sos., menggarisbawahi pentingnya menyelaraskan pemahaman relawan mengenai cakupan bencana. Selama ini, perhatian publik cenderung terfokus pada bencana fisik seperti banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta angin puting beliung. Padahal, potensi bencana sosial juga memerlukan perhatian yang tak kalah serius.
”Kewaspadaan ini sifatnya menyeluruh. Kita tidak hanya bicara soal banjir atau luapan sungai, tetapi juga bagaimana mendeteksi dan mencegah potensi konflik sosial, kerawanan psikososial masyarakat pascabencana, hingga dampak ekonomi yang dipicu krisis. TAGANA harus hadir sebagai peneduh, pembawa informasi akurat, serta pendamping masyarakat di kala sulit,” terang Yepi Yulius.
Ia merinci sejumlah poin penting yang menjadi fokus tugas para relawan TAGANA ke depan ialah memantau perkembangan cuaca serta potensi gangguan sosial di tiap desa/kelurahan secara real-time dan melakukan pendampingan ke tingkat RT/RW mengenai langkah awal yang harus dilakukan saat terjadi situasi darurat serta memastikan jalur distribusi bantuan sosial dan pemetaan lokasi evakuasi sementara dapat diakses dengan cepat dan tertata rapi.
Pertemuan antar-instansi dan mitra sosial tersebut diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan komitmen bersama serta penyusunan jadwal aksi sosialisasi terpadu yang akan diluncurkan hingga ke pelosok kecamatan.
Lewat sinergitas yang terjalin makin erat antara Dinas Sosial dan 39 personil TAGANA ini, Pemerintah Kabupaten PALI optimistis dapat menekan angka risiko dan kerugian akibat bencana secara signifikan. Pendekatan sosial yang humanis serta kesiapsiagaan yang terstruktur diharapkan mampu menciptakan masyarakat PALI yang tangguh, mandiri, dan tanggap terhadap segala bentuk ancaman kebencanaan.
Liputan : Rahasmin Sawiran.







